Senin, 16 September 2013

Movie Review : Flash of Genius


Flash of Genius adalah film yang diangkat dari kisah nyata. Film ini dirilis pada tahun 2008 dan disutradarai oleh Marc Abraham, bersetting pada tahun 1941-1952. Film ini menceritakan tentang perjalanan seorang penemu Wiper (alat kipas kaca depan mobil) bernama Robert Kearns (Greg Kinnearini) dalam memperjuangkan hak cipta temuannya.
 
  

Cerita ini dimulai pada saat Robert Kearns mengendarai mobilnya ketika hujan bersama keluarganya, lalu merasa tidak nyaman karena Wiper yang ada pada saat itu masih digerakkan secara manual. Kemudian Kearns teringat pada kejadian pada masa pernikahannya dengan istrinya, Philis (Lauren Graham). Pada saat itu, mata kiri Kearns hampir mengalami kebutaan ketika membuka sampanye. Lalu Kearns berencana mengubah cara kerja Wiper seperti mata, yang dapat diatur kecepatannya, dan secara otomatis bergerak. Akhirnya Kearns melakukan riset dengan dibantu oleh anak-anaknya dan berhasil.


Dengan bantuan dari sahabatnya Gil (Dermot Mulroney), Kearns kemudian mencoba mendemonstrasikan penemuannya pada perusahaan Ford Motor Company yang pada saat itu merupakan salah satu pabrikan mobil terbesar di dunia. Pada awalnya, negosiasi berjalan mulus sampai-sampai Kearns mempercayakan mesin prototipenya dipinjam oleh Ford, namun pada akhirnya secara tidak terduga, Ford mengundurkan diri. Hal ini membuat Kearns, yang sudah terlanjur merencakan  pembangunan pabrik miliknya merasa penasaran dan bingung.


Tidak lama setelah itu, Ford mengeluarkan mobil Ford Mustang keluaran terbarunya yang sudah dilengkapi dengan Wiper otomatis, sama persis dengan yang ditemukan Kearns. Kearns yang tidak terima dengan hal itu, mengajak teman-temannya dan keluarganya untuk bergabung berjuang bersamanya dalam menuntut Ford. Namun teman-temannya dan bahkan pengacaranya sendiri tidak percaya diri dalam mengalahkan Ford di pengadilan. Karena Ford adalah perusahaan besar dan Kearns hanya seorang individu. Namun, bisikan-bisikan itu tidak pernah digubris oleh Kearns walaupun Ford juga sempat menyuruh seseorang untuk memberikan uang pelicin sebesar $30 juta. secara langsung untuk Kearns agar kasus ini tidak dibawa ke pengadilan.

 

Selama bertahun-tahun, Kearns berusaha untuk memperjuangkan hak ciptanya dengan belajar tentang hukum. Meskipun tanpa pengacara, Kearns tetap maju menghadapi Ford di pengadilan dengan hanya dibantu oleh anak-anaknya menghadapi beberapa pengacara dari Ford. Meskipun begitu, dengan brilian, Kearns mampu mengalahkan Ford di pengadilan, dan hakim memutuskan dia mendapat $10,8 juta dari Ford. Tidak lama setelah itu, Kearns juga memenangkan pengadilan menghadapi Perusahaan Chrysler sebesar $18,7 juta.

Jika dilihat dari sudut pandang etika bisnis, ada beberapa hal yang bisa dipetik dari perjalanan Robert Kearns memperjuangkan hak ciptanya. Diantaranya adalah ketika Ford mengundurkan diri dari kerjasama dengan Kearns dengan alasan kerjasamanya tidak sesuai dengan jalan Ford, padahal mereka sudah mendapatkan mesin prototipenya. Lebih buruknya lagi mereka menggunakan hasil temuan Kearns tanpa seijin Kearns pada mobil keluaran terbarunya. Hal ini tidak etis jika dipraktekkan di dunia kerja. Yang kedua yang dapat kita petik adalah saat Ford berencana memberikan uang pelicin pada Kearns, hal ini juga tidak etis walaupun banyak dipraktekkan di dunia kerja.

Saya rasa, film ini dapat memberikan pengetahuan kepada kita semua dari sudut pandang etika bisnis tentang mana yang benar atau beretika dan mana yang salah atau yang tidak beretika. Dan tindakan Robert Kearns menuntut balik Ford adalah tindakan beretika yang mencontohkan kepada kita, bagaimana seharusnya jika temuan kita dicuri oleh pihak lain.

Oleh : Danny Pradana A.P (115020200111103)