Flash of Genius adalah film yang diangkat dari kisah nyata.
Film ini dirilis pada tahun 2008 dan disutradarai oleh Marc Abraham, bersetting
pada tahun 1941-1952. Film ini menceritakan tentang perjalanan seorang penemu
Wiper (alat kipas kaca depan mobil) bernama Robert Kearns (Greg Kinnearini)
dalam memperjuangkan hak cipta temuannya.
Cerita ini dimulai pada saat Robert Kearns mengendarai
mobilnya ketika hujan bersama keluarganya, lalu merasa tidak nyaman karena
Wiper yang ada pada saat itu masih digerakkan secara manual. Kemudian Kearns
teringat pada kejadian pada masa pernikahannya dengan istrinya, Philis (Lauren
Graham). Pada saat itu, mata kiri Kearns hampir mengalami kebutaan ketika
membuka sampanye. Lalu Kearns berencana mengubah cara kerja Wiper seperti mata,
yang dapat diatur kecepatannya, dan secara otomatis bergerak. Akhirnya Kearns
melakukan riset dengan dibantu oleh anak-anaknya dan berhasil.
Dengan bantuan dari sahabatnya Gil (Dermot Mulroney), Kearns
kemudian mencoba mendemonstrasikan penemuannya pada perusahaan Ford Motor
Company yang pada saat itu merupakan salah satu pabrikan mobil terbesar di
dunia. Pada awalnya, negosiasi berjalan mulus sampai-sampai Kearns
mempercayakan mesin prototipenya dipinjam oleh Ford, namun pada akhirnya secara
tidak terduga, Ford mengundurkan diri. Hal ini membuat Kearns, yang sudah
terlanjur merencakan pembangunan pabrik
miliknya merasa penasaran dan bingung.
Tidak lama setelah itu, Ford mengeluarkan mobil Ford Mustang
keluaran terbarunya yang sudah dilengkapi dengan Wiper otomatis, sama persis
dengan yang ditemukan Kearns. Kearns yang tidak terima dengan hal itu, mengajak
teman-temannya dan keluarganya untuk bergabung berjuang bersamanya dalam
menuntut Ford. Namun teman-temannya dan bahkan pengacaranya sendiri tidak
percaya diri dalam mengalahkan Ford di pengadilan. Karena Ford adalah
perusahaan besar dan Kearns hanya seorang individu. Namun, bisikan-bisikan itu
tidak pernah digubris oleh Kearns walaupun Ford juga sempat menyuruh seseorang
untuk memberikan uang pelicin sebesar $30 juta. secara langsung untuk Kearns
agar kasus ini tidak dibawa ke pengadilan.
Selama bertahun-tahun, Kearns berusaha untuk memperjuangkan
hak ciptanya dengan belajar tentang hukum. Meskipun tanpa pengacara, Kearns
tetap maju menghadapi Ford di pengadilan dengan hanya dibantu oleh anak-anaknya
menghadapi beberapa pengacara dari Ford. Meskipun begitu, dengan brilian,
Kearns mampu mengalahkan Ford di pengadilan, dan hakim memutuskan dia mendapat
$10,8 juta dari Ford. Tidak lama setelah itu, Kearns juga memenangkan
pengadilan menghadapi Perusahaan Chrysler sebesar $18,7 juta.
Jika dilihat dari sudut pandang etika bisnis, ada beberapa
hal yang bisa dipetik dari perjalanan Robert Kearns memperjuangkan hak
ciptanya. Diantaranya adalah ketika Ford mengundurkan diri dari kerjasama
dengan Kearns dengan alasan kerjasamanya tidak sesuai dengan jalan Ford,
padahal mereka sudah mendapatkan mesin prototipenya. Lebih buruknya lagi mereka
menggunakan hasil temuan Kearns tanpa seijin Kearns pada mobil keluaran
terbarunya. Hal ini tidak etis jika dipraktekkan di dunia kerja. Yang kedua
yang dapat kita petik adalah saat Ford berencana memberikan uang pelicin pada
Kearns, hal ini juga tidak etis walaupun banyak dipraktekkan di dunia kerja.
Saya rasa, film ini dapat memberikan pengetahuan kepada kita
semua dari sudut pandang etika bisnis tentang mana yang benar atau beretika dan
mana yang salah atau yang tidak beretika. Dan tindakan Robert Kearns menuntut
balik Ford adalah tindakan beretika yang mencontohkan kepada kita, bagaimana
seharusnya jika temuan kita dicuri oleh pihak lain.
Oleh : Danny Pradana A.P (115020200111103)
Oleh : Danny Pradana A.P (115020200111103)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar